
👁️bhayangkara.com ( MATBAR ) _ Sangihe.
Kesiapsiagaan dan kesigapan serta keseriusan Team Second Fleet Quick Respon ( SFQR ) Pangkalan TNI AL Tahuna ( LANAL ) dibawah Komando sosok pemimpin ramah dan santun namun tegas berkarisma, Letkol. Laut. ( P ). Hadi Subandi, bekerja sama dengan petugas kepelabuhan Kantor UPP Kelas II Tahuna, dibawah kepemimpinan, Hopriet Balirangen, berhasil menggagalkan peredaran zat atau bahan kimia beracun, yakni 12 karton Sianida, 10 karung karbon dan Cuasticsoda Flakes sebanyak 10 karung, yang diduga kuat akan digunakan sebagai bahan material dilokasi pertambangan emas ilegal ( PETI ), Minggu, ( 13/07/25 ).
Informasi yang berhasil dihimpun media ini mengungkapkan bahwa operasi ini digelar, menyusul saat Team SFQR LANAL Tahuna memperoleh informasi dari Tim Intelijen Lantamal VIII Manado pada Sabtu (12/7/2025) Pukul 20.36 WITA bahwa kapal penumpang KM. Merit Teratai yang akan berlayar dari Manado menuju Tahuna, diduga membawa muatan sianida dan zat beracun lainnya sekitar 15 karton yang tidak terdaftar di daftar manifest kapal. Menindaklanjuti informasi tersebut, Minggu (13/7/2025) pukul 04.30 WITA, saat KM. Merit Teratai tiba dan bersandar di Pelabuhan Nusantara Tahuna, Teamm SFQR LANAL Tahuna beserta petugas Kantor UPP Kelas II Tahuna, melaksanakan pemeriksaan didek/kabin kapal KM. Merit Teratai.

Dari hasil pemeriksaan ditemukan sianida sebanyak 12 karton, karbon sebanyak 10 karung dan Causticsoda Flakes 10 karung. Selanjutnya barang bukti ( BABUK ) tersebut kemudian dibawa dan diamankan ke Markas Komandan ( MAKO ) LANAL Tahuna untuk diproses lebih lanjut.
Keberhasilan dan kesuksesan pun, tak pelak menuai respon positif dan pujian sejumlah warga Sangihe khususnya para aktifis pejuang dan penggiat lingkungan hidup Sangihe.
Srikandi muda pemberani, pejuang lingkungan hidup Sangihe, Jull Takaliuang mengungkapkan sukacita hatinya dan terima kasihnya kepada dan teruntuk pihak LANAL Tahuna, dengan satu kata kunci pujian penuh makna, ” mujizat ” sedang terjadi di Sangihe.
” wow… betul ini ???
Mujizat sedang terjadi di Sangihe kalo sudah bagini.. terima kasih Pak DAN LANAL. Kenapa tida dari dulu ?
Semoga ke depan makin banyak yg tertangkap. Karena memang tidak susah jika ada niat baik dari pihak yang berkompeten dan berwenang, untuk menghentikan beredarnya bahan beracun berbahaya ilegal ( B3 ). Apalagi, yang akan digunakan ditambang ilegal. Jika Sianida dan bahan beracun berbahaya lain sudah dihentikan peredaran gelapnya, mudah – mudahan tambang ilegal yang secara nyata dan masif telah merusak lingkungan hidup dan ekosistem di Sangihe akan berhenti atau minimal kerusakannya terminimalisir sebelum menjadi semakin parah dan berbahaya bagi kehidupan mahluk hidup. ” ulas Takaliuang.
Selain Jull Takaliuang, untaian kalimat pujian juga diutarakan oleh rekan seperjuangannya yang tergabung dalam sebuah ORMAS lingkungan hidup, Save Sangihe Island ( SSI ), Robinson Saul, yang akrab disapa ROBSAL.
” patut diapresiasi kinerja TNI AL., karena selama ini belum pernah ada tangkapan sedemikian besar, apalagi itu adalah zat kimia yang masuk dalam kategori B3 ( Bahan Beracun Berbahaya ) yang peredarannya sebenarnya sangat ketat dan tidak sembarangan. Apalagi dimuat di kapal angkutan penumpang yang bila ada kebocoran sedikit saja dan mengenai bahan makanan, akibatnya bisa sangat mematikan. ” tulis ROBSAL via chat WA dinomor : 0813 4032 xxxx.
Senada dengan kedua aktifis, Jull Takaliuang dan ROBSAL, Dosen Politeknik Nusa Utara, mengutarakan kekagumannya sembari tak lupa menggalang pihak berwenang dan terkait lainnya untuk turut mencontoh prestasi kerja Team SFQR LANAL Tahuna yang didukung pihak Syahbandar Kepelabuhanan kantor UPP Kelas II Tahuna.
” tentu sebagai akademisi peduli lingkungan saya sangat berterima kasih dan salud untuk kerja nyata pihak LANAL Tahuna, walaupun sesungguhnya bahan – bahan kimia berbahaya tersebut sesungguhnya sudah lama dipasok para pelaku PETI. ” tutur Prof.
Sebaliknya, Peneliti Bidang Perikanan dan Kebaharian, Prof. Dr. Ir. Frans G. Ijong, M.Sc, berharap, agar keseriusan dan tekat baik pihak LANAL Tahuna, bisa menjadi pilot project atau dapat tertular ke pihak berwenang lainnya.
” Semoga pihak berwajib tentu bukan hanya LANAL Tahuna, tapi juga Kepolisian ( POLRES Sangihe ) dan instansi terkait tambang lainnya, intensif mengawasi dan mengamankan bahan kimia berbahaya yang masuk kategori B3 (BAHAN BERBAHAYA BERACUN) yang masuk ke Sangihe, dan meminta POLRES Sangihe mengusut tuntas siapa pemesan dan pemasok B3 tersebut. Ingat jika bahan kimia B3 tersebut, terus mengkontaminasi tanah, air, udara dan laut Sangihe maka kita tinggal menunggu ledakannya yakni peristiwa keracunan dan kematian massal dimulai dari biota bahkan bukan mustahil akan sampai ke manusia. ” tutup Prof.
( PEMRED ), Arya _ 173
