
” Megaria ” Tahuna
👁️matabhayangkara.com ( matbar ).
Perkembangan serta kesuksesan owner dan management pihak Super Market ” Megaria ” Tahuna dalam mengembangkan usahanya disektor perdagangan, tak diragukan lagi, bahkan mengkin, membuat banyak orang terbelalak dan terperangah, …..wau amazing.
Betapa tidak, tercatat, pihak management Super Market ” Megaria ” Tahuna, setidaknya, telah membangun dan memiliki tiga bangunan cabang yang disebar di beberapa wilayah, yakni, Megaria Link yang dibangun di Kelurahan Apengsembeka, Megaria Link yang terletak di Kelurahan Santiago dan Megaria Link Kelurahan Tidore serta Megaria Next yang berlokasi di Kecamatan Tabukan Utara.
Namun, sungguh diluar dugaan, dibalik kesuksesan yang diraih oleh owner dan pihak management Super Market Megaria Tahuna, terselip satu ironi kelam yang mengiris nurani kemanusiaan. Sebab, diduga perlakuan pihak owner dan management Super Market Megaria Tahuna terhadap karyawannya, sangat tidak manusia dan tidak berprikemanusiaan.
Ulasan berikut merupakan sekelumit perlakuan yang teralami dan menyakitkan hati para karyawan yang perlu menjadi atensi kita bersama utamanya pihak Pemerintah lewat instansi terkait, semisal Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Sangihe ( DISNAKER ) dan Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Sangihe ( DINSOS )
Dari hasil penelusuran 👁️matabhayangkara.com bersama beberapa rekan media, terungkap fakta, sejumlah karyawan mengaku diperlakukan layaknya ” budak ” modern. Mereka dipaksa bekerja dibawah tekanan mental dan fisik, tanpa kepastian jam kerja, tanpa kontrak yang layak sesuai dengan pengupahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah bahkan tanpa perlakuan manusiawi dari pihak manajemen.
Sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut, sistem kerja di Super Market Megaria Tahuna dijalankan secara semena-mena. Para karyawan harus siap dipanggil kapan saja, bekerja hingga larut malam tanpa upah lembur, dan dilarang keras mengeluh. Siapa yang berani bersuara, langsung diancam pemecatan sepihak — tanpa pesangon, tanpa belas kasihan.
Jika ada barang hilang, maka kerugian dengan nominal seharga barang yang hilang tersebut, menjadi tanggungan karyawan untuk menggantinya secara menyicil dengan cara dipotong tiap bulan dari gaji karyawan.
Insiden kehilangan ini terjadi disalah satu cabang Super Market Megaria yang ada di Kelurahan Santiago dengan nominal barang sebesar Rp. 7 juta. Akibatnya, untuk menutupi serta mengganti kerugian atas kehilangan tersebut, oleh pihak management, gaji seluruh karyawan, dipotong setiap bulan Rp. 300 s/d 400 ribu.
Perlakuan tidak manusiawi lainnya adalah saat kedapatan ada barang tidak laku terjual akibat kadaluarsa, kerugiannya dengan nominal harga barang kadaluarsa tersebut, tertanggung atas semua karyawan Super Market Megaria.
” Kami seperti ibarat ” tahanan “, bukan pegawai. Disuruh kerja terus tanpa tahu jam pulang. Kalau sedikit saja lambat, langsung dimaki dan diancam dikeluarkan atau dipotong gaji kami, ” ungkap salah satu karyawan yang menahan tangis saat diwawancarai team media.
Kisah getir itu bukan satu-dua. Banyak di antara mereka yang bertahan hanya karena kebutuhan ekonomi, bukan karena kenyamanan kerja. Beberapa bahkan mengaku harus menanggung beban kerja ganda tanpa tambahan bayaran. Sementara pihak pengelola seolah menutup mata dan merasa berkuasa penuh atas nasib para pekerja yang digaji di bawah standar.
Yang lebih memalukan, pihak pengawasan tenaga kerja dalam hal ini DISNAKER Kabupaten Kepulauan Sangihe hingga kini belum melakukan tindakan tegas. Padahal, praktik eksploitatif ini jelas-jelas melanggar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Di mana fungsi pengawasan ?
Apakah aparat hanya diam menonton penderitaan rakyat kecil yang dieksploitasi didepan mata ?
Jika diam dibiarkan, maka keadilan hanyalah slogan kosong. Dan jika tindakan kejam seperti ini terus berlangsung tanpa sanksi, maka Super Market Megaria Tahuna bukan lagi tempat belanja — tapi tempat penyiksaan terselubung dengan label “ usaha modern ”.
Negeri ini tak butuh pengusaha yang sukses diatas penderitaan orang lain. Negara butuh keadilan, dan rakyat butuh kemanusiaan.
Dan bila hukum masih punya nyawa, maka sudah sepatutnya Super Market Megaria Tahuna diperiksa dan diadili.
Karena dibalik tumpukan barang dan gemerlap etalase itu, tersimpan jerit tangis para pekerja yang terhina, dilecehkan, dan dianiaya dengan cara paling halus — tanpa darah, tapi mematikan pelan-pelan.
Sementara itu, hingga berita ini naik kemeja redaksi, baik owner maupun pihak management Super Market ” Megaria “, belum berhasil dihubungi untuk dikonfirmasi.
Arya _ 173
